Kedok Pindah ke Dagu, Protokol Kesehatan tubuh Menghadapi Tantangan Konsitensi

Kedok Pindah ke Dagu, Protokol Kesehatan tubuh Menghadapi Tantangan Konsitensi

TABLOIDBINTANG. COM –┬áMemakai kedok terus menerus dalam waktu periode memang tak nyaman, kadang mengganggu. Apalagi kalau maskernya berbahan kain yang cukup tebal. Rasanya seperti kembali menghirup nafas sendiri dengan baru keluar dari hidung. Beberapa orang yang tengah berolahraga, sering terpaksa menurunkan masker sampai dagu, agar bisa bernafas dengan suka. Beberapa pekerja di mal atau perkantoran juga melakukan hal yang sama. Menurunkan masker sampai ke dagu. Di jalanan pemandangan serupa itu juga banyak terjadi. Banyaknya produsen masker dadakan dengan pola warna-warni, masih belum efektif mengutarakan tren sebagai pelengkap busana zaman beraktivitas.

Sebagai arah dari New Normal, tempat-tempat terbuka diwajibkan menyediakan hand sanitizer atau sabun dan air untuk basuh tangan. Di awal banyak yang disiplin menyediakan. Tapi setiap hari memastikan ketersedian hand sanitizer atau air dan sabut juga memerlukan tenaga dan biaya. Tak sungguh-sungguh mengejutkan ketika akan masuk ke satu toko atau kantor ternyata hand sanitizer yang dipajang sudah tak ada isinya. Atau cairan dan sabun sebagai pengganti juga tak lagi dalam kondisi bisa dipakai.

Menjaga jangka sebagai salah satu protokol kesehatan di tengah pandemi Corona, dipraktekkan dengan sangat bagus di banyak tempat. Tanda dalam bentuk silang X atau telapak kaki dipasang untuk mengingatkan setiap orang. Akan tetapi memastikan setiap orang menjaga renggang di tempat-tempat umum dengan penuh kerumuman, ini juga PR dengan tak ringan. Tak ada dengan bisa menjamin setiap orang taat. Mungkin Anda pernah mengalami diserobot saat menunggu antrean, padahal zaman itu tengah menjaga jarak aman dengan antrean di depan.

Saat tersebut setiap kali akan masuk kepala, kantor atau restoran besar, tersedia petugas yang siap dengan media pengukur suhu. Banyak tempat, termasuk mal, yang melakukan ini dengan konsisten. Setiap pengunjung dicek suhu tubuhnya. Sisi baiknya, sekarang di setiap hari kita akan tahu berapa suhu tubuh kita. “36, ” kata seorang petugas setelah mendekatkan alat pengukur suhu ke seorang pengunjung. “Alhamdulillah. Padahal umur kami sudah 50 tahun, ” jawab si pengunjung yang menyangka petugas menebak umurnya. Ini joke dengan beredar di Facebook.

Kita semua tahu, memastikan di setiap orang disiplin dan konsisten mengarahkan protokol kesehatan sungguh tak gampang. Pelanggaran seperti banyak diberitakan pada TV tak bisa dibiarkan ataupun akan menjalar dan melebar. Ancaman denda tak efektif kalau cuma diumumkan dan tak benar-benar dilakukan. Kita, rakyat butuh contoh, butuh teladan. Setelah ada contoh orang besar atau perusahaan/institusi besar dihukum berpenat-penat karena melanggar protokol kesehatan, kaum pasti akan mudah patuh. Selama masih ada berita pelanggar adat kesehatan dibiarkan bebas, sulit buat meminta semua orang patuh menyelenggarakan protokol kesehatan. Kami patuh, tapi kalau orang tidak, kan percuma? Ini kerisauan banyak orang dengan mesti dianggap serius, dan tak bisa diselesaikan dengan imbauan.

About the author