Konten YouTube yang Nirfaedah dan Asosial

Konten YouTube yang Nirfaedah dan Asosial

TABLOIDBINTANG. COM – Kolom “Rame-Rame Berbohong Demi Konten YouTube yang Mulai Mengganggu”, dalam tabloidbintang. com, Kamis, 30/7/2020, tentu tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi semua kanal artis yang ngetop siap YouTubers. Sebab, sesungguhnya juga pas banyak kanal YouTube artis dengan layak tonton, menarik dan menghibur. Misalnya kanal Deddy Corbuzier dengan subscriber-nya lebih 10 juta orang, Yuni Shara yang subscriber-nya dalam atas 100 ribu, Roy Marten/Gading Marten dan Mandra yang gres beberapa bulan lalu jadi youtuber dan subscribers-nya masih bilangan puluhan ribu.

Tapi, kenapa hanya kanal artis yang hijrah jadi YouTuber yang dikritisi?

Pertanyaan tersebut tidak terkait dengan anggapan bahwa kehadiran bintang film di YouTube telah menganulir Youtubers yang lebih dulu berjuang membanting untuk bisa eksis.

Juga tidak sekadar untuk diperbandingkan, meskipun relevan, dengan banyaknya konten kanal YouTubers bukan artis dengan jauh lebih sampah dan lebih nirfaedah.

Kenapa hanya kanal artis sebagai YouTuber cuma yang dikritisi, sesungguhnya adalah perkara yang di dalamnya terkandung harapan–barangkali bahkan permohonan. Pasalnya, dibanding Youtubers “biasa”, artis yang hijrah di YouTube lebih punya pengalaman, wawasan, skill, kompetensi dan profesionalitas untuk membuat konten hiburan dan asing sebagainya.

Sebagai pelaku dan pekerja seni hiburan dengan selama bertahun-tahun mendapat nafkah serta popularitas dari kiprahnya di televisi, artis tentu paham batas tata, pasti mengerti rambu-rambu baik-buruk serta faedah-nirfaedah suatu pertunjukan hiburan, dengan digariskan pihak televisi, production house dan lembaga penyiaran. Selain itu, artis (televisi) tentu juga punya kesadaran bahwa bakat, kemampuan & profesinya itu mulia oleh sebab televisi adalah satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati rakyat kebanyakan, dengan sebagian besar miskin, secara GRATIS.

Anehnya, ketika hijrah di YouTube, entah kenapa sebanyak artis menjadi abai pada pemisah kepatutan, menafikan rambu baik-buruk dan faedah-nirfaedah seni tontonan. Boleh oleh sebab itu karena batas-batas yang diberlakukan televisi beda dengan YouTube. Atau kausa UU ITE tidak berlaku pada mereka yang melalui medsos mempermalukan maupun menghinakan dirinya sendiri.

Alhasil, bermodal hak kemandirian berekspresi, kebohongan yang lazim disebut setting-an atau prank dianggap buatan kreatif, pola berulang merayakan kemewahan diyakini sebagai kewajaran, mewawancarai rujukan yang mengaku profesor penemu obat Covid-19 adalah hebat, dan berlahiranlah konten sejenis yang nirfaedah dan bahkan menyesatkan nalar.

Bagi penonton televisi, jika dengan ditonton tidak menarik, tinggal pencet remot. Namun, artis dan pelaku seni hiburan tetap dimuliakan penonton oleh karena telah bersusah payah memberikan satu-satunya hiburan gratis pada rakyat. Tapi, nonton YouTube tidaklah gratis. Harus punya kuota, kudu beli pulsa. Alhasil, artis pembuat konten YouTube sesungguhnya dibayar tunai oleh penonton. Dan itu berlaku di tengah pandemi COVID-19, kala jutaan anak sekolah harus melancarkan secara online, dan sebagian gede di antaranya terbebani atau bahkan tidak mampu membeli pulsa. Maka tak berlebihan jika menyebut konten YouTube yang nirmanfaat dan muspra di dalam dasarnya adalah konten asosial. ***

Harry Tjahjono

About the author