Permusuhan dalam Perkawinan, Sekedar Bumbu atau Bom Waktu?

Permusuhan dalam Perkawinan, Sekedar Bumbu atau Bom Waktu?

Bertengkar dengan pasangan itu hal biasa di dalam perkawinan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM – Orang tua sejumlah, bertengkar dengan pasangan itu situasi biasa di dalam perkawinan. Namanya juga tengah saling mencari kecocokkan. Maka anggap saja pertengkaran jadi bumbu perkawinan. Malah tidak seru kalau tidak ada (pertengkaran). Apalagi setelah bertengkar, pasangan justru bisa tambah mesra. Apa benar begitu?

Well, itu kata-kata manis dari orangtua kepada anak-anaknya. Agar pasangan yang baru menikah tidak mudah putus asa menjalani biduk rumah tangga atau sedikit-sedikit ingin cerai. Anggia Chrisanti, konselor & terapis di Biro Konsultasi Ilmu jiwa mengutarakan, “Kalau bertengkar wajar. Berarti ada masalah. Dan di dalam hidup, kita memang akan tetap dihadapkan dengan masalah, agar kita selalu berpikir (hingga bertemu secara solusi), ” kata Anggia.

Lalu di dalam berumah tangga ada pihak suami dan orang. Dua orang berbeda isi kepala dan isi hatinya. Belum sedang ketika rumah tangga itu sudah berjalan selama beberapa waktu. Urusan bisa datang bukan saja dari internal suami-istri, tetapi juga bani, mertua, ipar, pekerjaan masing-masing, & lain-lain. Mulai dari masalah komunikasi, sosialisasi, ekonomi, atau apapun.

“Jadi yang penting adalah bukan dengan jalan apa hidup tanpa masalah (karena itu tidak mungkin), tapi bagaimana mengatasi masalah tanpa masalah, ” merancang Anggia. “Kemampuan mengatasi masalah sebab dua orang berbeda yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan, inilah dengan menjadi poin pentingnya, ” imbuhnya.

Lebih jauh Anggia menuturkan, bahwa semakin cerdas keduanya (suami-istri), semakin sehat fisik serta emosinya, penyelesaian masalah akan semakin cepat dan tepat. Efektif & efisien. Realistis, logis, aktual, nyata, dan inovatif. Bahkan tidak cuma mampu menyelesaikan dan mengatasi perkara yang ada, tapi juga siap mengantisipasi dan preventif terhadap masalah-masalah lain yang akan muncul.

“Pada akhirnya, masalah mulia seperti otomatis menjadi kecil, & masalah kecil seperti hilang. Serta kemampuan mengantisipasi, mengatasi dan menyelesaikan masalah dengan efektif dan tepat tentu (hampir) tidak mungkin membawa pasangan kepada permasalahan yang sama (berulang-ulang), ” ujar Anggia.

Oleh karenanya, adanya masalah, lidah, bertengkar, adalah bumbu yang mendatangkan kepada semakin kuat dan kokohnya suatu hubungan suami-istri dalam rumah tangga. “Tapiii, bertengkar melulu jelas lain ceritanya. Terlalu sering bertengkar atau berkonflik atau bermasalah berarti ada “makna” yang berbeda ataupun sebuah bom waktu perkawinan, ” simpulnya.

Pertengkaran ialah bom waktu jika:

– Intensitas terlalu sering, bukan saja setiap hari, tapi pada sehari bisa lebih dari seluruhnya.

– Meributkan peristiwa yang sama dari waktu ke waktu.

– Memuliakan hal yang kecil, mempermasalahkan dengan tidak ada.

kepala Sudah memiliki dampak yang bertambah dalam, baik secara fisik (biasa dikenal KDRT), psikis (stres ataupun bahkan depresi), perilaku tidak pokok (membutuhkan obat-obatan penenang, anti depresan, atau merokok yang berlebihan, performa kerja menurun, termasuk mulai munculnya perilaku selingkuh).

AURA. CO. ID

Rekomendasi

About the author